• 20 September 2021

Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Sultra Makin Membaik

Jul 21, 2020
Agnes Widiastuti.

KENDARI, BISNIS SULTRA – Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Sulawesi Tenggara (Sultra) yang diukur oleh Gini Ratio pada Maret 2020 tercatat sebesar 0,389. Angka ini menurun sebesar 0,004 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,393 dan turun 0,01 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2019 yang sebesar 0,399.

“Nilai Gini Ratio berkisar antara 0-1. Semakin tinggi nilai Gini Ratio menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi. Gini Ratio Sultra selama periode Maret 2017 sampai Maret 2020 terus mengalami fluktuasi, namun hampir selalu menurun jika dibandingkan kondisi mulai dari Maret 2018. Ini menunjukkan bahwa selama periode tersebut, pemerataan pengeluaran di Sultra mulai membaik,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra, Agnes Widiastuti, Selasa (21/7).

Dijelaskan, Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2020 tercatat sebesar 0,404 mengalami kenaikan 0,002 poin dibanding Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,402 dan turun sebesar 0,002 poin dibanding Gini Ratio Maret 2019 yang sebesar 0,406.

“Untuk daerah perdesaan, Gini Ratio pada Maret 2020 tercatat sebesar 0,347 mengalami penurunan 0,006 poin dibanding Gini Ratio September 2019 yang sebesar 0,353 dan turun sebesar 0,014 poin dibanding Gini Ratio Maret 2019 yang sebesar 0,361,” ujarnya.

Selain Gini Ratio, kata dia, ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan yaitu persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran ketimpangan Bank Dunia. Berdasarkan ukuran ini tingkat ketimpangan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen.

“Pada Maret 2020, persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah sebesar 16,88 persen yang berarti Sultra berada pada kategori ketimpangan sedang,” ucapnya.

Dia menuturkan, persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah pada bulan Maret 2020 itu meningkat jika dibandingkan dengan kondisi September 2019 yang sebesar 16,63 persen. Persentase pada Maret 2020 tersebut juga meningkat jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2019 yang sebesar 16,01 persen.

Sejalan dengan informasi yang diperoleh dari Gini Ratio, ukuran ketimpangan Bank Dunia pun mencatat hal yang sama yaitu ketimpangan di perkotaan lebih parah dibandingkan dengan ketimpangan di perdesaan.

Dia menambahkan, untuk persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 16,02 persen yang artinya berada pada kategori ketimpangan sedang. Sementara untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 18,67 persen yang berarti masuk dalam kategori ketimpangan rendah.

Menurut Agnes, ada beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap tingkat ketimpangan pengeluaran selama periode Maret 2019-Maret 2020 di Sultra. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), di Sultra tercatat bahwa kenaikan rata-rata pengeluaran perkapita per bulan penduduk kelompok 40 persen terbawah lebih cepat dibanding penduduk kelompok lainnya.

“Penduduk kelompok 40 persen menengah dan 20 persen teratas mengalami penurunan rata-rata pengeluaran. Tercatat kenaikan maupun penurunan rata-rata pengeluaran perkapita Maret 2019-Maret 2020 untuk kelompok penduduk 40 persen terbawah, 40 persen menengah, dan 20 persen teratas berturut-turut adalah sebesar 1,82 persen, -0,05 persen, dan -0,68 persen,” tutupnya. (BS)

-------------------------------